Seruni Bodjawati Melukis dengan Inspirasi dari Ribuan Buku

Seruni Bodjawati adalah pelukis perempuan muda Indonesia yang melukis dengan sumber inspirasi dari ribuan buku koleksinya. Pelukis yang lahir pada tanggal 1 September 1991 ini hingga tahun 2012 telah mendapat penghargaan antara lain: The Best Painting Artwork Dies Natalis XXVI dan XXVII ISI Yogyakarta, The Best Watercolor Painting ISI Yogyakarta, The Best Sketch FSR ISI Yogyakarta, Selected Painter: Local Government of Yogyakarta and Kyoto Japan Painting Cooperation, dan 15 kali juara I lomba lukis anak tingkat Nasional, DIY, dan JaTeng. Pada tahun 2011 Seruni dinobatkan sebagai The Most Successful International Visual Artist under 20 oleh komunitas seni di Prancis, La Société des Artistes Contemporains dan menjadi pelukis perempuan Indonesia pertama yang memenangkan penghargaan Dies Natalis ISI dua kali berturut-turut dengan mendapatkan penghargaan karya lukis terbaik Dies Natalis XXVI dan XXVII Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Salah satu karya masterpiecesnya yang berjudul Membantai Picasso mendapat penghargaan 12 Besar Karya Terbaik Bazaar Art Award yang diselenggarakan Harper's Bazaar Indonesia dan Vanessa Art Link Jakarta. Seruni terpilih sebagai salah satu Pahlawan Muda Indonesia versi Aplaus The Lifestyle Indonesia atas prestasinya di bidang seni rupa di kancah internasional. Pada tahun 2012 Seruni mendapatkan anugerah Wanita Terinspiratif Indonesia di bidang Seni dan Budaya oleh Kartni Award 2012 dari Majalah Kartini Indonesia dan Ibu Negara Ani Yudhoyono. Seruni terpilih sebagai Mahasiswa Berprestasi Paling Berbakat Tingkat Nasional Tahun 2012 oleh Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan dan terpilih sebagai Mahasiswa Berprestasi Terbaik se-Institut Seni Indonesia Yogyakarta oleh Rektor ISI Yogyakarta Prof. Dr. AM. Hermien Kusmayati, S.S.T., S.U. Banyak penghargaan lain yang diraihnya secara konsisten seperti Juara Pertama Duta Museum Daerah Istimewa Yogyakarta, Putera Puteri Indonesia Terbaik, dan lain sebagainya.
Berpameran tunggal empat kali di Yogyakarta (pameran tunggal pertamanya saat ia berusia sembilan tahun di Kayon’s Gallery dibuka oleh pelukis Kartika Affandi) dan pameran bersama puluhan kali di dalam dan luar negri antara lain di Jepang (Kyoto), Amerika (New York), Australia (Melbourne), Filipina (Manila), Romania (Bucharest), Prancis (Marseille, Boulogne & Paris), India (Hyderabad), Inggris (London), Jerman (VK Lauterbach), New Zealand (Christchurch), Singapura, Hongaria (Budapest & Eger) dan Spanyol (City of Cuenca).



Karya-karya Seruni mampu mengemukakan bakatnya yang unik tidak hanya karena berbekalkan teknik semata-mata, namun juga karena ide dan pergulatan batin yang muncul dari banyaknya wacana yang ia baca. Di rumahnya terdapat perpustakaan pribadi yang memuat ribuan buku yang sebagian besar telah ia baca. Karya-karya besar pemenang nobel seperti Lelaki Tua dan Laut karya Ernest Hemingway, Bumi yang Subur karya Pearl S. Buck, Negri Salju karya Yasunari Kawabata, Dataran Tortilla karya John Steinbeck, Sampar karya Albert Camus, dan lainnya. Karya-karya Victor Hugo, James Joyce, Agatha Christie, Haruki Murakami, Natsuo Kirino, Dan Brown, Karen Armstrong, JK Rowling, Laura Ingalls Wilder, Gabriel Gracia Marques, Kahlil Gibran, Edgar Allan Poe, dan Jung Chang telah banyak ia baca. 


Sedangkan semua novel dan cerpen Indonesia karya Iwan Simatupang, Pramudya Ananta Toer, Mochtar Lubis, Danarto,Umar Kayam, YB Mangunwijaya dan penulis-penulis wanita seperti NH Dini, Ayu Utami, Djenar Maesa Ayu, dan Dewi Lestari semua telah ia baca. Esai-esai wacana seni rupa Indonesia tulisan S.Sudjojono, Trisno Sumardjo, Nashar, Sitor Situmorang, M. Dwi Marianto, Suwarno Wisetrotomo, Aminudin TH Siregar, Jim Supangkat, Jakob Sumardjo, Helena Spanjaard, Carla Bianpoen, Enin Supriyanto, Farah Wardani, dan Mikke Susanto hampir tiap hari ia baca berulang-ulang. Juga karya-karya para filosof besar seperti Faust karya Goethe, L’Existentialism et un humanism dan Les Mots karya Sartre, Zarathustra dan Beyond Good and Evil karya Nietzsche, Une mort tres douce dan Le deuxième sexe karya Simone de Beauvoir, the Philosophy of Right karya Hegel, dan Discourse of Method karya Descartes. Buku-buku mengenai ajaran Machiavelli dan Confucius menjadi favoritnya. Naskah drama William Shakespeare yang diterjemahkan Trisno Sumardjo dan Rendra yang ia baca antara lain adalah Hamlet, King Lear, dan Romeo and Juliet. Sedangkan kumpulan puisi yang sukai adalah Blues untuk Bonnie dan Mencari Bapa karya Rendra, Sajak Ladang Jagung karya Taufik Ismail, Perahu Kertas karya Sapardi Djoko Damono, dan Asmaradana karya Gunawan Mohamad.

Essay Seni Rupa karya Seruni Bodjawati yang diterbitkan di koran Kedaulatan Rakyat. Selain menghasilkan karya lukis, Seruni juga menulis banyak cerita pendek, puisi, dan essay. Beberapa tulisannya telah diterbitkan di berbagai media massa.
Di rumah Seruni terdapat hampir sepuluh ribu judul buku. Ada filsafat, hukum, seni, budaya, antropologi, sastra hingga buku-buku seperti Suluk Gatoloco dan Darmogandul, Tao Te Ching, Babad Tanah Jawa, Bhagavad Gita, Mitologi Yunani, dan lainnya. Kayanya ilmu pengetahuan yang diserapnya menjadikannya terpilih sebagai Juara I Duta Museum DIY yang dianugerahkan oleh Sri Sultan Hamengkubuwana X. Keluarganya menjalani hidup dengan sederhana. Seruni selalu membawa karya-karya kanvasnya yang berat ke kampus ISI Yogyakarta dengan berjalan kaki dan mengendarai angkutan umum bus kota, tapi tiap minggu buku-buku terus bertambah banyak. Setiap sudut dan sisi ruang di rumahnya terus memberi panggilan untuk belajar keras.


Ditulis oleh Aji Pamungkas, SH. Ketua Forum Teater Kampus Yogyakarta tahun 1995-1998. Aktif di Pusat Pelatihan Akting Azwar AN tahun 2001. Menulis esei budaya dan opini di berbagai media massa.

Popular Posts