Liem Seeng Tee Pengusaha Tangguh di Balik Kejayaan Perusahaan Sampoerna


Liem Seeng Tee adalah pendiri PT. HM Sampoerna, sebuah perusahaan rokok besar di Indonesia. Ia lahir di Fujian, Tiongkok, pada tahun 1893. Liem merupakan imigran dari keluarga miskin. Ia datang ke Indonesia pada tahun 1898 bersama kakak perempuan dan ayahnya. Sejak remaja, Liem berusaha hidup mandiri dengan cara berjualan makanan kecil di dalam gerbong kereta. Ia juga pernah berjualan makanan kecil selama 18 bulan penuh tanpa istirahat sekalipun. Saat itulah ia belajar meracik tembakau yang dijualnya di stasiun kereta api.

Tidak lama setelah menikah dengan Siem Tjiang Nio pada tahun 1912, Liem mendapat pekerjaan sebagai peracik dan pelinting rokok di sebuah pabrik rokok di Lamongan. Dari situ Liem memperlihatkan kemampuan alaminya dalam meracik dan melinting rokok. Tidak lama kemudian, Liem berhenti dari pekerjaan itu dan menyewa sebuah warung kecil di Surabaya Lama. Di warung tersebut istrinya berjualan bahan makanan kecil, sedangkan Liem berusaha berjualan rokok racikannya sendiri. Usaha ini sempat maju ketika jalan raya di depan rumah dilebarkan, tetapi sayangnya kemudian gubug tempat tinggal mereka terbakar.

Kemudian datanglah kesempatan kedua. Sebuah perusahaan tembakau bangkrut, dan Liem ditawari untuk membeli unit usaha itu dengan harga murah. Tetapi ia harus melunasinya dalam waktu kurang dari 24 jam. Liem pun membayarnya dengan uang hasil kerja keras mereka yang diam-diam ditabung istrinya di dalam tiang bambu rumah. Di unit usaha inilah Liem berkesempatan memamerkan keahliannya sebagai peracik tembakau yang sangat andal. Kemudian pasangan suami istri yang dikaruniai dua putra dan tiga putri ini melayani pesanan rokok dengan aneka citarasa, menggunakan mesin pelinting sederhana.

Untuk mengembangkan usahanya, mereka membentuk badan hukum dengan nama Handel Maatschappij Liem Seeng Tee (1913), yang di kemudian hari diubahnya menjadi Handel Maatschappij Sampoerna (dan setelah Perang Dunia II, berubah lagi menjadi PT Hanjaya Mandala Sampoerna / HM. Sampoerna). Perusahaan ini memproduksi rokok dengan aneka macam merek dagang seperti “Dji Sam Soe”, “123″, “720″, “678″, dan “Djangan Lawan”. Menjelang pendudukan Jepang, perusahaan ini sudah memiliki 1.300 orang karyawan dan memproduksi lebih dari tiga juta batang rokok per minggu. Pabriknya semakin besar dan pasarnya semakin kukuh, khususnya di daerah Jawa Timur dan Jawa Tengah.

Pada tahun 1942, Jepang mendarat di Surabaya. Dalam waktu kurang dari enam jam, Liem ditangkap dan dibawa ke Jawa Barat untuk menjalani kerja paksa, sementara keluarganya lari dalam persembunyian. Setelah Indonesia memproklamirkan kemerdekaan, harta Liem yang masih tersisa hanyalah keluarganya sendiri dan merk dagang “Dji Sam Soe”. Tidak mau menyerah, Liem kembali memulai usahanya dan mengusung merk “Dji Sam Soe” ke pasar. Perlahan tapi pasti usahanya berkembang, kapasitas produksinya semakin baik, dan pasar berhasil dikuasainya lagi. Setelah mengalami jatuh bangun, PT. HM Sampoerna menjadi salah satu perusahaan terbesar di Indonesia hingga sekarang. Jejak Perjuangan Liem Seeng Tee dapat dipelajari di Museum House of Sampoerna, Taman Sampoerna No.6, Krembangan Utara, Pabean Cantian, Kota SBY, Jawa Timur 60163.

Lukisan oleh Seruni Bodjawati. Judul: Legenda Sang Perintis. Ukuran: 130 x 100 cm. Media: Cat akrilik pada kanvas. Tahun: 2017.

If you would like to schedule a studio visit to see the artwork in person, commission, inquiries or buy this original painting directly from the artist, please contact +6285602897020 (WhatsApp) or send an e-mail to serunibodjawati@gmail.com 

Free Shipping Worldwide

Popular Posts