Soe Hok Gie Aktivis yang Mengkritik Pemerintah Indonesia dengan Gagah Berani


Soe Hok Gie adalah aktivitis Indonesia keturunan Tionghoa yang lahir pada 17 Desember 1942. Sosoknya sangat terkenal karena berbagai tulisannya yang kritis tentang pemerintahan Orde Lama dan Orde Baru. Ia menentang kediktatoran berturut-turut dari Presiden Soekarno dan Soeharto. Walaupun meninggal muda pada usia 26 tahun, Soe Hok Gie selalu dikenang dan dijadikan inspirasi oleh masyarakat Indonesia.

Sejak masih sekolah, Gie sering mengunjungi perpustakaan umum dan beberapa taman bacaan di pinggir-pinggir jalan di Jakarta. Menurut seseorang peneliti, sejak masih SD, Soe Hok Gie bahkan sudah membaca karya-karya sastra yang serius, seperti karya Pramoedya Ananta Toer. Karena ayahnya seorang penulis, tak heran ia begitu dekat dengan sastra. Selama di SMA, minat Soe Hok Gie pada sastra makin mendalam. Ia juga mulai tertarik pada ilmu sejarah. Kesadaran berpolitiknya pun mulai bangkit. Dari sinilah ia mulai menghasilkan berbagai tulisan yang tajam dan penuh kritik.

Setelah lulus SMA, Gie kuliah di Universitas Indonesia (UI) dari tahun 1962 sampai 1969. Selama menjadi mahasiswa, ia menjadi aktivitis yang kritis dalam memprotes Presiden Soekarno dan PKI. Banyak yang meyakini gerakan Gie berpengaruh besar terhadap tumbangnya Soekarno. Setelah lulus, ia menjadi dosen di almamaternya sampai hari kematiannya. Pada tahun 1965, Gie membantu mendirikan Mapala UI, organisasi lingkungan di kalangan mahasiswa. Ia terkenal sangat suka mendaki gunung. Ironisnya, Gie meninggal karena menghirup gas beracun saat mendaki Gunung Semeru sehari sebelum ulang tahun ke-27. Ia meninggal bersama rekannya, Idhan Dhanvantari Lubis. Gie dimakamkan di tempat yang sekarang menjadi Museum Taman Prasasti di Jakarta Pusat.

Walau Gie telah meninggal, karya-karyanya menjadi inspirasi banyak orang hingga sekarang. Buku harian Gie diterbitkan pada tahun 1983, dengan judul Catatan Seorang Demonstran yang berisi opini dan pengalamannya terhadap aksi demokrasi. Buku harian Soe ini menjadi inspirasi untuk film 2005, berjudul Gie, yang disutradarai oleh Riri Riza dan dibintangi Nicholas Saputra sebagai Soe Hok Gie. Gie juga merupakan subjek dari sebuah buku 1997, yang ditulis oleh Dr John Maxwell yang berjudul Soe Hok Gie: Diary of a Young Indonesian Intellectual. Buku itu diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia pada tahun 2001, dan berjudul Soe Hok Gie: Pergulatan Intelektual Muda Melawan Tirani.

Gie dikenal sebagai penulis produktif di berbagai media massa, misalnya Kompas, Harian Kami, Sinar Harapan, Mahasiswa Indonesia, dan Indonesia Raya. Sekitar 35 karya artikelnya (kira-kira sepertiga dari seluruh karyanya) selama rentang waktu tiga tahun Orde Baru, sudah dibukukan dan diterbitkan dengan judul Zaman Peralihan (Bentang, 1995). Juga skripsi sarjana mudanya perihal Sarekat Islam Semarang, tahun 1999 diterbitkan Yayasan Bentang dengan judul Di Bawah Lentera Merah. Sebelumnya, skripsi S1-nya yang mengulas soal pemberontakan PKI di Madiun, juga sudah dibukukan dengan judul Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan.

Lukisan oleh Seruni Bodjawati. Judul: Nirwana Perjuangan Sang Demonstran. Ukuran: 130 x 100 cm. Media: Cat akrilik pada kanvas. Tahun: 2017.

If you would like to buy this original painting directly from the artistschedule a studio visit to see the artwork in person, order commission or any business inquiries, please contact +6285602897020 (WhatsApp) or send an e-mail to serunibodjawati@gmail.com 

Free Shipping Worldwide

Popular Posts