Yap Thiam Hien Pengacara Tionghoa yang Memperjuangkan Hak Segala Etnis


Yap Thiam Hien adalah seorang pengacara Indonesia keturunan Tionghoa. Ia mengabdikan seluruh hidupnya berjuang demi menegakkan keadilan dan hak asasi manusia di Indonesia. Yap lahir di Koeta Radja, Aceh, pada 25 Mei 1913. Ia dibesarkan dalam lingkungan perkebunan yang sangat feodalistik. Karena itu, sejak kecil ia bersifat memberontak dan membenci segala bentuk penindasan dan kesewenang-wenangan. 

Yap belajar di Europesche Lagere School, Banda Aceh. Kemudian melanjut ke MULO di Banda Aceh. Pada tahun 1920-an, ia pindah sekolah ke MULO di Batavia. Lalu ia meneruskan ke AMS A-II dengan program bahasa-bahasa Barat di Bandung serta Yogyakarta dan lulus pada 1933. Kemudian ia masuk ke sekolah pendidikan guru Hollands-Chineesche Kweekschool, di Meester Cornelis. Pada 1943, ia mendaftar di Rechsthogeschool (Sekolah Tinggi Hukum). Kemudian pada awal 1946, Yap melanjutkan studi hukumnya di Universitas Leiden, Belanda. Dari sana ia meraih gelar Meester in de Rechten.

Sekembalinya ke tanah air pada 1948, Yap mulai berkiprah sebagai seorang pengacara untuk warga keturunan Tionghoa di Jakarta. Belakangan ia bergabung dengan sebuah biro hukum kecil namun cukup terkemuka. Setelah lebih berpengalaman, Yap bersama John Karwin, Mochtar Kusumaatmadja dan Komar membuka kantor pengacara pada 1950. Sampai kemudian, Yap membuka kantor pengacara sendiri pada 1970 dan kemudian memelopori berdirinya Peradin (Persatuan Advokat Indonesia) dan menjadi pimpinannya.

Dalam rangka memperkuat perlawanannya terhadap penindasan dan tindakan diskriminatif yang dialami keturunan Tionghoa, Yap ikut mendirikan Baperki, suatu organisasi massa yang mulanya didirikan untuk memperjuangkan kepentingan politik orang-orang Tionghoa. Lalu, pada Pemilihan Umum 1955, ia menjadi anggota Konstituante. Nama Yap muncul ke permukaan setelah ia terlibat dalam perdebatan di Konstituante pada 1959. Ia satu-satunya anggota Konstituante yang menentang UUD 1945 karena keberadaan Pasal 6 yang diskriminatif dan konsep kepresidenan yang terlalu kuat.

Selama menjadi pengacara, Yap pernah membela pedagang di Pasar Senen yang tempat usahanya tergusur oleh pemilik gedung. Yap juga menjadi salah seorang pendiri Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI). Pada era Bung Karno, Yap menulis artikel yang mengimbau presiden agar membebaskan sejumlah tahanan politik, seperti Mohammad Natsir, Mohammad Roem, Mochtar Lubis, Subadio, Syahrir, dan Princen.

Begitu pula ketika terjadinya Peristiwa G30S, Yap, yang dikenal sebagai pribadi yang antikomunis, juga berani membela para tersangka G30S seperti Abdul Latief, Asep Suryawan, Oei Tjoe Tat, dan Sudisman. Pada Peristiwa Malari (Malapetaka Lima Belas Januari) 1974, Yap juga tampil teguh memosisikan diri membela para aktivis mahasiswa. Begitu pula ketika terjadi Peristiwa Tanjung Priok pada 1984, Yap maju ke depan membela para tersangka. Hingga kini sosoknya dikagumi banyak ahli hukum ternama seperti Todung Mulya Lubis dan Hotman Paris Hutapea.

Lukisan oleh Seruni Bodjawati. Judul: Sang Pendekar Keadilan. Ukuran: 130 x 100 cm. Media: Cat akrilik pada kanvas. Tahun: 2017.

If you would like to schedule a studio visit to see the artwork in person, commission, inquiries or buy this original painting directly from the artist, please contact +6285602897020 (WhatsApp) or send an e-mail to serunibodjawati@gmail.com 

Free Shipping Worldwide

Popular Posts