Biografi Pelopor Sejarah Feminisme Modern Indonesia dan Aktivisme Hak Asasi Manusia Saparinah Sadli


Saparinah Sadli adalah perempuan yang menjadi terus hingga 90 tahun lebih. Pensiun sebagai profesor psikologi tak halangi peran dan perjuangannya membela perempuan. Saparinah Sadli semakin tua semakin berkilau. Turun dari menara gading perguruan tinggi menjadi Publik Intelektual ketika ia menjadi anggota Sub Komisi Pendidikan dan Penyuluhan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia pada 1996 di usia 69 tahun. Penyataannya bersama Asmara Nababan sering dikutip oleh banyak media massa ketika itu. Pamor KOMNAS HAM yang baru didirikan jadi meroket di zaman Orde Baru di era Saparinah Sadli.

Di tengah krisis yang ditimbulkan oleh kerusuhan besar dan peristiwa pemerkosaan etnis perempuan Tionghoa pada bulan Mei 1998, Sadli muncul sebagai penggugat bersama 22 perempuan perkasa lainnya. Ia turun gunung karena ia melihat belum ada tindakan penting untuk merespon peristiwa itu. Awalnya gugatan hendak ditujukan pada Panglima ABRI. Namun dibatalkan Saparinah karena sang panglima membantah terjadi pemerkosaan massal di televisi. Ibu Sap biasa ia dipanggil lalu memerintahkan Smita Notosusanto untuk mengganti nama surat menjadi ke Presiden Habibie.

Dua puluh dua perempuan dari berbagai kelompok mulai dari Aktivis, Kowani, Dharma Wanita, Akademisi bersatu dalam wadah Masyarakat Anti Kekerasan terhadap Perempuan menghadap presiden. Mereka menuntut permintaan maaf presiden dan berdebat dengan dipimpin Ibu Sap dengan presiden selama 2,5 jam. Awalnya presiden menolak kebenaran yang disampaikan para perempuan tersebut. Akhirnya presiden setuju membuat pernyataan bahwa telah terjadi kekerasan terhadap perempuan. Ketika presiden ingat omongan famili perempuannya yang sama dengan yang dinyatakan Ibu Sap.

Tak lama kemudian dibentuk oleh Presiden Komisi Nasional. Hak Asasi Anti Kekerasan terhadap Perempuan dengan Saparinah Sadli sebagai ketua. Pembentukan KOMNAS Perempuan adalah tonggak bersejarah Indonesia karena pertama kalinya negara mengakui terjadi kekerasan terhadap perempuan dan kekerasan itu merupakan pelanggaran terhadap hak asasi manusia. Di dunia hanya negara Indonesia yang punya Komisi Anti Kekerasan terhadap Perempuan. Presiden juga membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) Kasus Kerusuhan 13-15 Mei 1998 dengan Ibu Sap ada di dalamnya. Refleksi 13 tahun setelah kejadian oleh Ibu Sap dikatakan, “Kebenaran peristiwa pemerkosaan massal terhadap sejumlah perempuan warga Indonesia keturunan Etnis Tionghoa tidak diakui oleh peme- rintah dengan tegas. Pemerintah masih mengkatagorikan sebagai dugaan.”

Pengakuan abu-abu pemerintah atas kejahatan kemanusiaan pada etnis perempuan Tionghoa yang oleh Ibu Sap disebut sebagai terorisme seksual telah mendobrak tabu kekerasan pada perempuan di Indonesia. Kekerasan pada perempuan di ranah domestik kemudian mendapat status sah jadi urusan publik yang selama ini begitu kuat pernyataan sebagai isu domestik. Prestasi ini nampak terutama di ranah penegakan hukum dengan kepolisian yang resmi akui. Sejak itu ada ruang Perempuan dan Anak di kantor kepolisiaan. Pengelolanya kemudian harus sudah ikuti training. Kekerasan domestik pada perempuan tidak lagi berstatus domestik urusan pribadi keluarga. Urusan kekerasan pada anakpun terseret jadi diurus pemerintah. Kekerasan menjadi wacana publik yang jadi urusan kebaikan bersama. Pemerintah sipil di tingkat kota dan kabupatenpun sekarang beramai-ramai mengurus urusan kekerasan perempuan dan anak.

Saparinah Sadli jadi ikon pembela korban pemerkosaan peristiwa Mei 1998. Tahun 2007 ia menjadi Pelapor Khusus untuk KOMNAS Perempuan dengan dibantu oleh Andi Yentriyani terkait dengan peristiwa Mei 1998. Di laporan Ibu Sap ditulis oleh sejarawan Didi Kwartanada, ”KOMNAS Perempuan mampu memberi perasaan tidak sendiri pada perempuan golongan Tionghoa pasca kerusuhan. Saatnya meneguhkan rasa aman untuk semua etnis perempuan di Indonesia. Perempuan mesti dilindungi dari ancaman perkosaan ataupun kekerasan seksual lainnya dan berhak mendapatkan rasa aman.” Tepat sekali julukan yang diberikan Ibu Sap oleh Didi Kwartanada tentang Ibu Sap sebagai Nation Builder di bidang Gender dan Pejuang Kemanusiaan yang Tak Kenal Lelah.

Saparinah Sadli mendapat banyak julukan positif sebagai pemimpin perempuan. Salah satunya adalah penyatu perempuan dari berbagai kelompok latar Belakang. Mereka bergerak cepat jika ada isu publik penting dengan melibatkan Ibu Sap. Seperti ketika pemilihan gubernur DKI Jakarta tahun 2017. Di mana Ibu Sap memimpin 500 aktivis perempuan yang tergabung Perempuan Peduli Kota Jakarta. Mendukung Basuki Tjahaya Purnama dan Djarot Saiful Hidayat yang dinilai memiliki program nyata yang berpihak pada perempuan dan anak. Saparinah Award yang diberikan pada perempuan berdedikasi yang kerja nyatanya dirasa. Diberikan oleh teman-teman Ibu Sap sebagai bentuk penghormatan padanya. Jadi bukan Ibu Sap sebagai pemprakarsanya.

Ketokohan Saparinah Sadli melalui sebuah proses panjang. Mulai ia jadi asisten apoteker, psikolog, dosen, dan dekan bergelar doktor dan profesor psikologi lalu jadi tokoh kajian perempuan dengan mengajar Psikologi Perempuan. Saparinah Sadli menjadi pecipta institusi baru yang punya daya dobrak.

Institusi itu adalah Program Studi Wanita yang dibentuk bersama T.O. Ihromi. Lalu Komnas Perempuan dibentuknya bersama aktivis dan akademi kondang seperti Mely G. Tan dan Kamala Chandrakirana.

Pembela perempuan yang dilakukan Ibu Sap berakar pada keterlibatannya mendiri Program Studi Wanita di Pasca Sarjana Universitas Indonesia di era Orde Baru. Saat itu istilah perem- puan, feminis, dan gender saja bisa membuat diskusi dan geger. Belum lagi status sebagai ilmu yang bisa berdiri sendiri yang dipersoalkan. Akhirnya Universitas Indonesia memberi izin adanya Studi Wanita dan menjadi prestasi dunia karena program Studi Wanita diterima sebagai disiplin ilmu yang berdiri sendiri. Saat diresmikan koleganya memperingati Ibu Sap agar tidak menjadikan mahasiswanya sebagai seorang feminis.

Proses menjadi Saparinah Sadli terus berjalan. Di usia 80 tahun ia masih menulis buku “Menjadi Perempuan Sehat dan produktif di Usia Lanjut” (Tahun 2015).  Ia sudah selayaknya juga mendapat julukan Guru dan Ibu Bangsa seperti yang disematkan ke Publik Intelektual pria seusianya.

Atas kiprahnya, Ibu Sap mendapat berbagai penghargaan Cendekiawan Berdedikasi Harian Pagi Kompas tahun 2009. The Asia Special Lifetime Achievement Award 2008. Anugerah Hamengkubuwana IX dari Universitas Gajah Mada 2004. Nabil Award tahun 2011. Roosseno Award tahun 2017 diterima di usia 90 tahun. Pemerintah juga memberi penghargaan pada Bu Sap. *Teks oleh Esthi Susanti Hudiono.

Lukisan oleh Seruni Bodjawati. Judul: Spirit Sang Pejuang Gender (Saparinah Sadli). Media: Acrylic on canvas. Ukuran lukisan: 130 x 100 cm. Tahun 2018. Available.

Ingin mengoleksi karya lukisan asli Seruni Bodjawati? Hubungi: 085602897020 (WhatsApp). Gratis biaya pengiriman, sertifikat resmi, dan berbagai bonus ekslusif.

If you would like to buy this original painting directly from the artist, order custom art or any business inquiries, please contact: +6285602897020 (WhatsApp), e-mail: serunibodjawati@gmail.com, or Direct Message on Instagram @seruni_bodjawati

Worldwide Shipping 

Popular Posts